Kriteria Memilih Saham Menurut Warren Buffet
Warren Buffet didaulat sebagai investor paling sukses di dunia. Yang mengumpulkan kekayaan hingga 66 Milyar USD (tahun 2016) dengan cara berinvestasi di Bursa Saham. Enam kriteria saham pilihan menurut Warren Buffet
1) Return on Equity (ROE)
Inilah kriteria pertama yang dilihat oleh Mr.Buffet saat melakukan analisis saham dan perusahaan. Perusahaan yang memiliki ROE tinggi berarti perusahaan yang efektif dalam menjalankan usahanya dan memberikan keuntungan bagi para pemegang saham. Semakin tinggi ROE, semakin baik.
2) Debt to Equity Ratio (DER)
Mr.Buffet tidak begitu menyukai perusahaan yang banyak hutang. Semakin sedikit hutang, akan semakin baik. Karena hutang akan membebani operasional perusahaan dan membuat bisnis menjadi lebih berisiko. Semakin rendah DER, semakin baik.
3) Profit Margin
Profit Margin berkaitan dengan keuntungan perusahaan. Semakin tinggi Profit Margin-nya, berarti perusahaan itu semakin menguntungkan.Semakin tinggi Profit Margin, semakin baik.
4) Bukan Perusahaan Komoditas
Yang ini ada hubungannya dengan Profit Margin. Karena perusahaan komoditas tidak punya kendali atas harga produknya. Sehingga satu-satunya cara untuk menjaga Profit Margin adalah dengan menurunkan Cost. Sayangnya, menurunkan Cost juga ada batasnya. Karena bisnis nggak mungkin berjalan tanpa Cost. Kalau harga komoditas sedang turun, maka cepat atau lambat perusahaan akan merugi. Sebab hasil penjualan produknya tidak bisa menutupi Cost. (Inilah yang dialami oleh banyak perusahaan komoditas seperti tambang, minyak dan gas sepanjang tahun 2011-2015 kemarin).Inilah yang tidak disukai oleh Mr.Buffet.
5) Punya Rekam Jejak Minimal 10 Tahun
Mr.Buffet mencari perusahaan yang:
• ROE-nya selalu meningkat dari tahun ke tahun
• DER-nya semakin kecil dari tahun ke tahun
• Profit Margin-nya semakin besar dari tahun ke tahun
Dan perhitungannya bukan cuma 2-3 tahun saja. Tapi harus konsisten selama 10 tahun ke belakang.
6) Harga Sahamnya 25% Lebih Rendah daripada Nilai Intrinsik
Meskipun memenuhi semua kriteria sebelumnya, Mr.Buffet tidak mau membeli saham yang sudah mahal dan murah atau mahal, itu dihitung dari Nilai Intrinsik.
Sumber : Ariesz Pratama Putra ariesz@idxchart.com via s1.acemsrve.com
1) Return on Equity (ROE)
Inilah kriteria pertama yang dilihat oleh Mr.Buffet saat melakukan analisis saham dan perusahaan. Perusahaan yang memiliki ROE tinggi berarti perusahaan yang efektif dalam menjalankan usahanya dan memberikan keuntungan bagi para pemegang saham. Semakin tinggi ROE, semakin baik.
2) Debt to Equity Ratio (DER)
Mr.Buffet tidak begitu menyukai perusahaan yang banyak hutang. Semakin sedikit hutang, akan semakin baik. Karena hutang akan membebani operasional perusahaan dan membuat bisnis menjadi lebih berisiko. Semakin rendah DER, semakin baik.
3) Profit Margin
Profit Margin berkaitan dengan keuntungan perusahaan. Semakin tinggi Profit Margin-nya, berarti perusahaan itu semakin menguntungkan.Semakin tinggi Profit Margin, semakin baik.
4) Bukan Perusahaan Komoditas
Yang ini ada hubungannya dengan Profit Margin. Karena perusahaan komoditas tidak punya kendali atas harga produknya. Sehingga satu-satunya cara untuk menjaga Profit Margin adalah dengan menurunkan Cost. Sayangnya, menurunkan Cost juga ada batasnya. Karena bisnis nggak mungkin berjalan tanpa Cost. Kalau harga komoditas sedang turun, maka cepat atau lambat perusahaan akan merugi. Sebab hasil penjualan produknya tidak bisa menutupi Cost. (Inilah yang dialami oleh banyak perusahaan komoditas seperti tambang, minyak dan gas sepanjang tahun 2011-2015 kemarin).Inilah yang tidak disukai oleh Mr.Buffet.
5) Punya Rekam Jejak Minimal 10 Tahun
Mr.Buffet mencari perusahaan yang:
• ROE-nya selalu meningkat dari tahun ke tahun
• DER-nya semakin kecil dari tahun ke tahun
• Profit Margin-nya semakin besar dari tahun ke tahun
Dan perhitungannya bukan cuma 2-3 tahun saja. Tapi harus konsisten selama 10 tahun ke belakang.
6) Harga Sahamnya 25% Lebih Rendah daripada Nilai Intrinsik
Meskipun memenuhi semua kriteria sebelumnya, Mr.Buffet tidak mau membeli saham yang sudah mahal dan murah atau mahal, itu dihitung dari Nilai Intrinsik.
Sumber : Ariesz Pratama Putra ariesz@idxchart.com via s1.acemsrve.com
Komentar
Posting Komentar